Cerita Maniez

Salah Cinta

Terpaksa aku kembali ke kelas mengambil catatan kimia yang tertinggal di kolong meja. Kalau saja besok tak ada ulangan, pasti sudah kubiarkan bukuku menginap semalam di sana. Akhirnya, secepat kilat aku berjalan ke kelas untuk mengambilnya. Dalam perjalanan, tiba-tiba mas Andre teman sekelas bang Rendra teriak kepadaku dari kejauhan. “Mel, tau nggak Rendra dimana ?” “Nggak tau mas, Amel juga belum ketemu.” Balasku dengan teriakan juga. Kemudian mas Andre pun pergi sembari melambaikan tangan kepadaku.

Dari tadi Bang Rendra memang tak tampak batang hidungnya. Biasanya setelah bel pulang berbunyi, dia sudah menghampiriku sambil ngomel-ngomel karena membuatnya terlalu lama menunggu. Sebelum semua itu terjadi, aku harus segera kembali ke kelas kemudian mencari bang Rendra.

Di sepanjang koridor kulihat suasana mulai sepi, tinggal satu dua orang yang masih sibuk di depan laptop. Tanpa mempedulikannya, aku pun terus berjalan. Hingga saat kumelintas di depan kelas, tiba-tiba langkah kakiku terhenti. “Ups ! Siapa tuh ?” Kurasa ada seseorang yang duduk di bangku kelasku. Aku pun berbalik arah memastikan sosok yang sepertinya sedang sibuk menulis itu. Dengan akomodasi penglihatan maksimal, kuperhatikannya dari balik jendela. ”Ya ampun !! Bang Rendra ?!” Teriakku spontan membuat bang Rendra di dalam sana kaget.

Melihatku menghampiri, bang Rendra tampak tergesa-gesa membereskan barang-barang di hadapannya. “Oh, sepertinya ada yang disembunyikan nih.” Batinku setelah menangkap kegelisahannya. “Ngapain Bang ?” Kutanya bang Rendra dengan nada sedikit memancing untuk bercerita. “Ah…, nggak ngapa-ngapain. Kamu sendiri ngapain di sini ?” “Loh ini kan kelas Amel, jadi suka-suka Amel dong.” “Skak mat, kena lo.” Ucapku dalam hati menyusul jawaban pedas yang kulontarkan pada bang Rendra. Hingga membuatnya diam seribu bahasa.

Tak lama kemudian, kucoba lagi merayu bang Rendra agar dia mau buka mulut. Sambil duduk di sampingnya, kugoyang-goyang lengannya dengan kedua tanganku. “Ayo dong Bang, cerita ! Nggak usah ditutup-tutupi gitu deh !”. “Beneran Mel, nggak ada apa-apa. Suer !” “Ah abang nggak asik ah.” Kataku sedikit manja kemudian memalingkan wajah.

Melihatku seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan ice cream, sepertinya bang Rendra tak tega. Dengan terpaksa dia mulai bercerita. “Ya deh abang cerita. Tapi, jangan bilang-bilang mama ya !” “OK bos !” Balasku enteng. “Ehm…sebenernya abang lagi buat kado valentine.” “Hah, valentine ? buat siapa Bang ?” Teriakku shock, hingga membuat gendang telinga bang Rendra hampir jebol. “Sabar dong Mel !” Bentak bang Rendra kepadaku.

Namun tak lama kemudian dia kembali mengatur nafas dan berkata,  “sebenernya kado ini buat….” “Siapa bang ? Buruan !!” Aku semakin tak sabar, karena Bang Rendra ngomongnya lelet banget. “Iya, iya. Buat mbak Susi. Puas ?!” “Hek, hahaha….” Bak gunung meletus, aku pun tak mampu menahan magma-magma geli yang menggelitikiku untuk tertawa lepas. “Please deh bang, mbak Susi ? Mbak Susi yang kita ketemu di halte bus itu ? Hahaha…ngapain sih pake ngasi kado mbak Susi segala ? Ntar abang nyesel lho !” Kataku memperingatkan bang Rendra dengan sisa-sisa tawa. “Ah…kamu Mel, selalu saja begitu, nggak bisa lihat orang seneng dikit.”

Bang Rendra semakin sebal denganku. Begitu cepat dia meraih tasnya dan meninggalkanku. “Eh, eh, tunggu Amel dong Bang !” Pintaku sembari menyabet buku yang dari tadi melongo menatapku dari balik meja. Sedangkan bang Rendra hanya mebalas permintaanku dengan lirikan sinis, kemudian pergi.

Terus terang, aku masih penasaran dengan sikap bang Rendra. Aku ingin mendengar penjelasan detil darinya. Untuk itu, kubuntuti bang Rendra kemudian berkata, “Bang, ngapain sih pake ngasih kado mbak Susi ? Abang kan udah cakep, nggak perlu seperti itu juga sudah laku.” “Emang permen, laku! Udah ah abang balik dulu.” Secepat kilat bang Rendra membalas pernyataanku dengan wajah ditekuk.

Aku masih belum puas juga dengan penjelasan bang Rendra. Jadi, tak ada salahnya kalau abangku tersayang itu terus kugempur dengan pertanyaan-pertanyaan. “Bang, Amel tahu Abang nggak berani bungkus di rumah soalnya takut sama mama kan?! Makanya bang nggak usah gitu-gituan !”  “Ah…terserah. Abang mau pulang. Kamu pulang nggak ? Kalo nggak, Abang tinggal nih.” Semakin cepat bang Rendra berjalan meninggalkanku. “Eh, eh, nggak bisa gitu ! Tunggu Amel dong!”

***

Keesokkan harinya bang Rendra tampak aneh, pagi-pagi dia sudah menghampiriku di kelas. Sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan. Mungkin saat berangkat sekolah tadi dia lupa bilang padaku. “Eh Mel, ntar pulang sekolah temenin abang ya !” Dengan manja bang Rendra memohon kepadaku sembari duduk di sampingku. “Memangnya Abang mau kemana ? Bukannya setiap hari kita memang pulang bareng?!” Kataku sedikit ketus sambil mengerjakan PR Fisika yang kemarin malam belum sempat ku kerjakan. “Ke tempat mbak Susi. Abang mau kasih kado valentine yang kemarin.” Mendengar semua itu, tiba-tiba penaku berhenti menari. Aliran darahku seakan tersumbat. Dan mataku seraya menatap wajah bang Rendra yang ternyata tampak serius.

Tak kusangka, ternyata bang Rendra benar-benar suka mbak Susi, padahal baru sekali bertemu. Mereka bertemu di halte bus saat aku dan bang Rendra menunggu bus untuk pulang. Karena kebetulan waktu itu motor bang Rendra masuk bengkel. Itu pun bang Rendra belum sempat melihat wajah mbak Susi Karena mbak Susi keburu naik bus yang jurusannya tak searah dengan rumah kita.

Memang saat itu mbak Susi tampak cantik, meski dari belakang. Rambutnya yang panjang terurai hingga ke punggung, sesekali melambai-lambai karena hembusan angin. Kakinya yang panjang pun terlihat seksi dengan balutan stocking hitam. “Arrrgghh….nggak mungkin ! Masak bang Rendra suka sama mbak Susi ? Yang bener aja !” Teriakku dalam hati, tak percaya dengan keputusan bang Rendra.

***

Bel pulang berbunyi, ternyata bang Rendra  sudah stand by di depan kelasku. “Niat banget sih !” Ucapku dalam hati setelah melihat raut wajah bang Rendra yang melukiskan rasa senang, tak sabar bertemu mbak Susi. Melihat pemandangan itu, tiba-tiba terlintas dalam benakku untuk memberi pelajaran pada bang Rendra.

Sementara kuturuti saja keinginannya bertemu mbak Susi. Biarkan dia menemukan jawabannya sendiri. Sedikit tak tega sebenarnya. “Tapi biar aja deh, biar bang Rendra kapok bikin acara begituan,” kataku dalam hati dengan senyum misterius. “Mel, buruan dong !” Bang Rendra berteriak menghampiriku sambil menarik tanganku. “Iya, iya….“

Sebelum berangkat aku kembali mengingatkan bang Rendra. “Bang, beneran mau ketemu mbak Susi ?” “Ya iyalah Mel.” “Tapi Abang sama sekali nggak mengenal mbak Susi. Sedangkan Amel cukup tahu siapa dia. Apalagi teman sekelasku sering membicarakannya.” “Iya membicarakan kecantikan mbak Susi. Ya kan ?! Udah nggak usah banyak omong !”

Bang Rendra menarik tanganku dan berjalan cepat sekali. Dia tak peduli dengan tanganku yang hampir remuk karena genggamannya. “Ih…, seperti di kejar rentenir aja. Santai dong Bang !” Kutarik tanganku yang mulai kram. “Eh…, nggak bisa gitu ntar mbak Susi keburu pergi !” Bang Rendra kembali menarik tanganku. Tapi kali ini dengan tekanan yang tak begitu keras.

Setibanya di tempat parkir sekolah, secepat kilat bang Rendra menaiki motor, kemudian menstarternya. Aku pun turut menaiki motor sambil menata duduk. Belum nyaman posisiku, tangan bang Rendra sudah berambisi menancap gas, hingga tubuhku hampir terpental.

Di sepanjang jalan pun mulutku bak mulut Komeng bintang iklan motor keluaran Jepang yang memble karena naik motor dengan kecepatan tinggi. Wah, wah tak bisa dibiarkan, ini penyiksaan namanya. Aku pun berteriak kencang kepada bang Rendra. “Pelan dikit dong Bang !” Tapi sepertinya teriakkanku tak mempan, meski otot-otot leherku sampai menegang. Tak ada pilihan lain, aku hanya pasrah dan menggenggam erat baju bang Rendra.

***

Sesampainya di halte, aku segera turun dari motor meski dengan kening berkerut karena pusing. Sedangkan bang Rendra tetap sehat, malah terlihat bersemangat menghampiri mbak Susi yang sedang asyik ngobrol bersama orang-orang aneh dengan posisi yang lagi-lagi berdiri membelakangi kita. Melihat pemandangan aneh itu, bang Rendra merasa heran. Dia pikir, bagaimana mungkin mbak Susi bisa akrab dengan orang-orang seperti itu. Bang Rendra pun menoleh kepadaku dengan mimik wajah penuh tanya. Tapi, bang Rendra tetap nekat menghampiri mbak Susi. Sedangkan aku hanya diam di belakangnya menstabilkan diri.

Langkah kaki bang Rendra semakin mendekati posisi mbak Susi. Gayanya sudah seperti pangeran. Pangeran yang menghampiri putri pujaan hatinya. Karena, kuakui postur bang Rendra tampak sempurna. Apalagi ditambah jamper abu-abu yang membalut tubuhnya, membuatnya terlihat semakin keren. “Wah, aku benar-benar tak sabar melihat klimaks kisah percintaan antara bang Rendra dan mbak Susi. Hoho….” Meski sedikit pusing sebenarnya, tapi aku benar-benar tak sabar melihat ekspresi wajah bang Rendra setelah bertemu pujaan hatinya itu.

Aku pun mulai berkonsentrasi menatap bang Rendra, sambil menghitung detik-detik mbak Susi menoleh kepadanya.  Teman-teman mbak Susi yang duduk di bangku halte dengan posisi tak membelakangi kita, sepertinya sudah mencium kadatanganku dan bang Rendra. Menanggapinya, bang Rendra pun meluncurkan senyuman kepada mereka, kemudian menyentuh pundak mbak Susi dari belakang. Dan aku mulai berhitung, “satu…dua…tiii…ga.”

“Astaghfirullahaladzim….” Teriak kaget bang Rendra setelah melihat wajah mbak Susi yang ternyata setengah mateng alias banci. Shock. Tak tahu apa yang harus dilakukan, akhirnya dengan seribu langkah bang Rendra pergi dari tempat itu. Menjauh dari sekumpulan orang-orang aneh. Sedangkan aku masih diam di tempat sambil tertawa geli.

Di atas motor ninjanya, bang Rendra melototiku. Dia sebal karena aku tak segera menyusulnya. Melihat sinyal itu, aku pun segera naik motormenghampirinya. Sebelum pergi,  tak kulewatkan kata selamat tinggal untuk mbak Susi. “Mbak Susi, da…. Oia, dapat salam dari abangku, namanya Rendra.Ha,ha,ha.” Kataku dari atas motor sambil melambaikan tangan kemudian menunjuk bang Rendra. “Duh, gantengnya…salam balik ya dik !” Balas mbak Susi dengan nada khas orang-orang ber-spesies lawra alias lanang ora wedok ora(cowok bukan, cewek bukan). “Bang dapat salam dari mbak Susi tuh,” kataku meledek  bang Rendra. “Duh diem deh Mel !” Timpal bang Rendra kemudian buru-buru pergi.

Aku puas melihat bang Rendra malu, biar dia kapok untuk melirik cewek sana-sini. Bagaimanapun juga bang Rendra harus menundukkan pandangan. Aku nggak rela kalau abangku tersayang masuk neraka hanya karena tak bisa menahan nafsunya. “Gila lo Mel ! Kenapa dari awal kamu nggak bilang abang kalo mbak Susi itu banci ?” “Sengaja, biar bang Rendra tau kalo cinta itu nggak bisa hanya dilihat dari fisiknya. Selain itu kalo kita memang cinta, nggak mungkin rela melihat orang yang kita cintai masuk neraka karena sudah kita pacarin. Ingat kan bang kata mama ?! Pacaran itu mendekati zina dan Allah pasti akan menghukum orang-orang yang melakukannya di akhirat kelak.”  Ucapku panjang lebar bak ustad Sanusi. Hingga membuat bang Rendra terdiam menyimak  perkataanku.

“Eh Bang, tau nggak nama asli mbak Susi ?” Aku bertanya untuk mencairkan suasana. “Nggak.” “Mbak Susi itu kalau malam dipanggil Susi. Tapi kalau siang panggilan kerennya Susilo….” Kataku dengan suara menyerupai pria di kata terakhir. Dan wajah bang Rendra semakin merah padam mendengarnya.

“Udah deh Mel…! Abang cubit kamu nih.” “Coba aja cubit ! Bang Rendra kan lagi nyetir, week… Kataku seperti anak kecil membuat bang Rendra tersenyum manis mendengarnya. [dewi]

Cerpen2 ini ditulis berdasarkan pengalaman, pengamatan dan imajinasi penulis…. afwan kalo ada kesamaan nama. Tapi kalo ada kesamaan kisah, kemungkinan itu anda…. hoho…bcanda ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.